Mpginews.id,Cirebon, 14 Juni 2026 -Pertemuan antara Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj dan KH. Imam Jazuli, Lc., M.A., di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, pada Sabtu (13/6/2026), bukan sekadar riak kecil dalam dinamika Nahdlatul Ulama. Pertemuan ini berpotensi menjadi gelombang politik yang dapat memengaruhi arah konstelasi organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Di permukaan, agenda tersebut dikemas secara normatif melalui Workshop Transformasi Pesantren yang dihadiri para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Namun, dalam semiotika politik Nahdliyin, sebuah panggung kerap memuat lebih dari satu pesan. Membaca pertemuan ini semata sebagai forum silaturahmi dan akademik tentu tidak cukup untuk memahami makna yang tersirat di baliknya.
Ketika Kiai Said—mantan Ketua Umum PBNU dua periode yang kini disebut-sebut sebagai salah satu figur kuat calon Rais Aam—duduk satu meja dengan Kiai Imam Jazuli, tokoh yang dikenal sebagai motor penggerak Presidium Muktamar Luar Biasa (MLB) sekaligus kritikus vokal terhadap kepemimpinan PBNU saat ini, atmosfer pertemuan tersebut memperoleh dimensi politik yang lebih luas.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: ke mana arah konsolidasi yang sedang dibangun melalui pertemuan ini?
Jika dicermati secara lebih mendalam, pertemuan tersebut tidak hanya dapat dibaca sebagai silaturahmi ideologis, melainkan juga sebagai langkah strategis yang mengarah pada dua agenda besar sekaligus.
Kiai Said selama ini dikenal sebagai representasi kuat tradisi intelektual Islam klasik (turats) sekaligus simbol perlawanan terhadap berbagai upaya politisasi organisasi yang dinilai menjauh dari kemandirian jam’iyah. Di sisi lain, Kiai Imam Jazuli secara terbuka pernah menyatakan bahwa Kiai Said merupakan figur yang ideal untuk memimpin jajaran Syuriyah PBNU.
Melalui mekanisme pemilihan Rais Aam oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), kehadiran Kiai Said di BIMA dapat dimaknai sebagai upaya memperkuat dukungan moral maupun struktural dari kalangan pesantren. Sementara itu, Kiai Imam Jazuli, dengan jejaring sosial dan kapasitas mobilisasi yang dimilikinya, tampak memainkan peran sebagai konsolidator berbagai kelompok kritis agar terhubung pada satu agenda bersama: mengantarkan Kiai Said menuju posisi Rais Aam pada Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Di sinilah letak signifikansi politik pertemuan tersebut. Kiai Imam Jazuli dikenal memiliki gagasan yang progresif mengenai kemandirian ekonomi dan modernisasi pesantren. Mengumpulkan para kiai dari Jawa Tengah—yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis suara terbesar NU—di Cirebon, Jawa Barat, dapat dibaca sebagai manuver geopolitik jam’iyah yang cukup cermat.
Setidaknya terdapat dua kemungkinan yang dapat dianalisis.
Pertama, Kiai Imam Jazuli sedang membangun basis pengaruh sebagai figur alternatif dalam peta kepemimpinan PBNU di masa mendatang. Mengonsolidasikan kalangan kiai muda progresif dengan dukungan moral dari tokoh sepuh sekelas Kiai Said tentu merupakan modal politik yang sangat berharga.
Kedua, pertemuan ini dapat dimaknai sebagai langkah konsolidasi untuk mengusung figur Ketua Umum PBNU alternatif yang memperoleh restu dari Kiai Said guna menantang dominasi kelompok status quo dalam organisasi.
Dalam perspektif tersebut, Poros Cirebonan tampaknya tengah membangun pembagian peran yang saling melengkapi. Kiai Said menyediakan legitimasi moral dan ideologis, sedangkan Kiai Imam Jazuli menghadirkan strategi, metodologi transformasi, serta instrumen konsolidasi di tingkat akar rumput. Kombinasi ini berpotensi membentuk poros baru yang mengarah pada konfigurasi kepemimpinan dengan Kiai Said di posisi Rais Aam dan figur yang memperoleh dukungannya di jalur Tanfidziyah.
Di saat yang sama, gerakan Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU dan Forum Presidium MLB belakangan cukup intens mengkritik sentralisasi kewenangan di bawah kepemimpinan PBNU saat ini. Karena itu, pertemuan di BIMA dapat pula dibaca sebagai sinyal bahwa kelompok-kelompok pesantren di daerah tengah menyiapkan alternatif patronase dan arah baru bagi organisasi.
Melalui forum workshop tersebut, para pengasuh pesantren tidak hanya memperoleh wawasan mengenai transformasi dan tata kelola kelembagaan, tetapi juga terlibat dalam proses pembentukan kesadaran kolektif mengenai masa depan jam’iyah. Mereka berpotensi menjadi aktor penting dalam menentukan arah Muktamar mendatang.
Peta Menuju Muktamar ke-35: Mengunci Masa Depan
Pertemuan di Bina Insan Mulia mengirimkan pesan yang cukup jelas: masa depan Nahdlatul Ulama tidak hanya ditentukan melalui forum-forum formal di tingkat pusat, tetapi juga melalui proses konsolidasi yang berlangsung di pesantren-pesantren daerah.
Sinergi antara ketokohan Kiai Said Aqil Siradj yang karismatik dan berpengaruh secara nasional dengan Kiai Imam Jazuli yang dikenal dinamis dan konseptual menunjukkan bahwa agenda transformasi pesantren dan konsolidasi politik menjelang Muktamar ke-35 NU dapat berjalan beriringan.
Mereka tidak sekadar menunggu momentum, melainkan berupaya menciptakan momentum itu sendiri. Sebuah gagasan tentang NU Abad Kedua tampaknya tengah dirumuskan: organisasi yang kuat secara kelembagaan, mandiri secara ekonomi, modern dalam tata kelola, namun tetap teguh menjaga tradisi keilmuan para muassis.
Bagi kalangan elite organisasi di tingkat pusat, perkembangan ini patut dicermati secara serius. Sebab, arus bawah yang selama ini menjadi fondasi kekuatan NU menunjukkan tanda-tanda sedang bergerak dan membangun konsolidasi baru dari daerah.
Penulis adalah pemerhati sosial-keagamaan dan ke-NU-an.
Editor : DM MPGI







Komentar