Mpginews.id,JAKARTA –Pukul 19.30 WIB, lampu di pelataran Tugu Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, padam. Yang tersisa hanya selembar kain putih raksasa yang bergerak liar diterpa angin malam, di bawah sorot lampu biru dan merah. Dari balik kain tersebut, dua belas penari muncul dalam posisi berlutut dan terdiam.
Suasana itu menjadi pembuka sendratari Calon Arang Menggugat, karya terbaru mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ, yang dipentaskan di kawasan Teater Terbuka UNJ pada 28 Oktober.
Karya ini bukan sekadar ujian koreografi, melainkan sebuah pembacaan ulang terhadap kisah klasik Bali yang sarat nilai budaya sekaligus relevan dengan persoalan sosial masa kini.
Dalam tradisi lontar dan geguritan Bali, Calon Arang dikisahkan sebagai seorang janda sakti dari Desa Girah pada masa pemerintahan Raja Airlangga. Ia digambarkan menebarkan wabah setelah putrinya, Ratna Manggali, mengalami pengucilan akibat stigma masyarakat. Namun, dalam versi Calon Arang Menggugat, sosok Calon Arang tidak lagi semata-mata ditampilkan sebagai Ratu Leak yang jahat.
“Mahasiswa kami mencoba membalik narasi. Calon Arang dibaca sebagai perempuan berilmu yang dikorbankan oleh stigma patriarki dan kekuasaan. Gugatan itu bukan tentang ilmu hitam, tetapi tentang seorang ibu yang marah karena anaknya dikucilkan oleh sistem,” ujar Ida Bagus Ketut Sudiasa, S.Sn., M.Sn., dosen koreografi Program Studi Pendidikan Tari FBS UNJ.
Menurut Ida Bagus, karya ini sejalan dengan filosofi yang selama ini ditanamkannya kepada mahasiswa, yakni bahwa tradisi tidak boleh hanya dihafalkan, tetapi harus terus dihidupkan melalui sentuhan kreativitas dan inovasi agar tetap lestari.
Sebagaimana karya Menapak Bumi yang memadukan gerak etnik dengan musik kekinian, Calon Arang Menggugat menggabungkan ragam gerak dasar Bali, seperti ngegol, nyapuh, dan ngumbang, dengan eksplorasi gerak kontemporer yang menampilkan dinamika jatuh dan bangun serta pemanfaatan properti panggung.
Properti menjadi salah satu elemen penting dalam pertunjukan ini. Kain putih sepanjang hampir 10 meter yang hadir pada awal pertunjukan bukan sekadar elemen visual. Kain tersebut bertransformasi menjadi simbol gelombang gosip masyarakat Girah, kabut mistis, sekaligus selubung stigma yang menutupi sosok Calon Arang.
Apresiasi Pimpinan Universitas
Pertunjukan yang memadukan gamelan hasil penggarapan melalui Digital Audio Workstation (DAW) dengan tata cahaya teater modern ini mendapat perhatian dan apresiasi dari pimpinan universitas.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, Andy Hadiyanto, yang hadir memberikan sambutan, mengapresiasi keberanian mahasiswa dalam mengangkat tema tersebut.
“Kami di UNJ selalu mendorong inovasi yang berdampak. Karya Calon Arang Menggugat ini merupakan contoh nyata bagaimana mahasiswa tidak hanya menari, tetapi juga berpikir kritis. Mereka membedah cerita rakyat dengan kepekaan estetis abad ke-21. Hal ini sejalan dengan arahan Kementerian bahwa kampus harus menjadi poros intelektual yang terbuka dan kritis,” ujar Andy Hadiyanto dalam sambutannya.
Andy, yang baru saja meraih Penghargaan Internasional IMLA 2025, menegaskan bahwa upaya pelestarian budaya melalui karya kreatif mahasiswa merupakan bagian dari diplomasi akademik UNJ dalam mewujudkan visi World Class University.
Sementara itu, Rektor UNJ, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Ifan Iskandar, M.Hum., menyampaikan bahwa Teater Terbuka FBS UNJ memang diposisikan sebagai laboratorium penciptaan bagi mahasiswa untuk bereksplorasi dan melahirkan karya-karya inovatif.
Pesan yang disampaikan dalam kesempatan tersebut menjadi pengingat bagi para mahasiswa untuk tidak takut menghadirkan gagasan kritis melalui karya seni.
“Jangan takut menggugat. Justru dari gugatan itulah lahir karya yang jujur,” demikian pesan yang disampaikan.
Pada akhir pertunjukan, kain putih raksasa yang sejak awal menjadi pembatas akhirnya tersibak. Dua belas penari berdiri dan menatap penonton dengan riasan wajah pucat. Tidak ada lagi sosok monster yang selama ini melekat pada citra Calon Arang. Yang hadir justru potret seorang perempuan yang terluka, terpinggirkan, tetapi memiliki keberanian untuk melawan.
Melalui Calon Arang Menggugat, mahasiswa Pendidikan Tari UNJ menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan masa lalu yang harus dipertahankan bentuknya, melainkan ruang dialog yang dapat terus dihidupkan untuk membaca, mengkritisi, dan merespons persoalan kehidupan masa kini.
(GusWedha)
Editor : DM MPGI







