MPGINEWS.ID | Yogyakarta – Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah, menyampaikan pandangannya mengenai sosok ideal yang layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada era abad kedua organisasi tersebut., (18/07/2026).
Melalui sebuah tulisan opini berjudul “Menakar Kriteria Calon Nahkoda Ideal PBNU”, Gus Miftah menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa sebelumnya. Menurutnya, NU tidak lagi hanya berkutat pada pelestarian tradisi keagamaan dan sosial kemasyarakatan, tetapi telah memasuki ruang peradaban digital, diplomasi global, hingga penguatan ekonomi umat.
Ia menilai kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjawab perubahan zaman dengan tetap menjaga akar tradisi pesantren sebagai fondasi utama organisasi.
Enam Kriteria Calon Ketua Umum PBNU
Dalam opininya, Gus Miftah menguraikan enam syarat penting yang dinilai wajib dimiliki oleh calon Ketua Umum PBNU.
Kriteria pertama adalah berstatus sebagai pengasuh pesantren. Menurutnya, pesantren merupakan ruh sekaligus identitas Nahdlatul Ulama sehingga pemimpin organisasi harus memahami kultur, tradisi, dan kehidupan santri secara utuh.
Kedua, pemimpin harus memiliki penguasaan literasi keislaman yang kuat, baik terhadap kitab-kitab turats (klasik) maupun literatur kontemporer. Bekal tersebut dinilai penting agar NU tetap memiliki pijakan keilmuan yang kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika pemikiran Islam modern.
Ketiga, calon pemimpin harus mempunyai visi dan misi yang jelas, realistis, serta terukur. Menurut Gus Miftah, NU memerlukan peta jalan yang mampu mengarahkan organisasi menuju kemajuan dalam jangka panjang.
Keempat adalah kemandirian ekonomi pribadi. Ia berpandangan bahwa Ketua Umum PBNU idealnya telah mapan secara finansial sehingga tidak mudah terpengaruh kepentingan politik maupun konflik kepentingan lainnya.
Kelima, pemimpin NU harus memiliki kemampuan diplomasi internasional. Dalam konteks globalisasi, NU dinilai memiliki peluang besar memainkan peran sebagai representasi Islam moderat di tingkat dunia.
Sementara kriteria keenam adalah kemampuan manajerial modern. Pengelolaan berbagai aset pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi umat memerlukan tata kelola profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Menilai Figur Kiai Imam Jazuli
Setelah menguraikan enam indikator tersebut, Gus Miftah menilai sejumlah nama yang selama ini disebut-sebut sebagai calon pemimpin PBNU merupakan kader terbaik NU.
Ia menyebut nama Gus Kikin dari Tebuireng, Gus Rozin dari Mathali’ul Falah Kajen, Gus Yusuf dari Pesantren API Tegalrejo, Gus Salam dari Denanyar, Ra Azaim Situbondo, Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar, Gus Zulfa, Gus Fahrur dari PP Annur Malang, hingga Ketua Umum PBNU saat ini, Gus Yahya Cholil Staquf.
Namun demikian, berdasarkan parameter yang ia susun, Gus Miftah menilai Kiai Imam Jazuli, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, memiliki sejumlah keunggulan yang dianggap relevan dengan kebutuhan NU di masa mendatang.
Menurutnya, Imam Jazuli memiliki latar belakang pendidikan yang memadukan tradisi pesantren salaf dengan pengalaman akademik internasional. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo, kemudian melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo, serta memperdalam bidang politik, pertahanan, dan strategi di sejumlah perguruan tinggi di Malaysia.
Selain aspek keilmuan, Gus Miftah juga menilai Kiai Imam Jazuli berhasil membangun Pesantren Bina Insan Mulia dari awal hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mandiri secara ekonomi dengan sistem manajemen modern.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti kapasitas kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada pengelolaan organisasi keagamaan, tetapi juga mampu membangun institusi yang profesional dan berkelanjutan.
Tantangan NU di Masa Depan
Dalam penutup opininya, Gus Miftah menegaskan bahwa NU abad kedua membutuhkan pemimpin yang telah terbukti mampu membangun sistem organisasi, memiliki kemandirian ekonomi, kedalaman ilmu agama, serta kemampuan berinteraksi di tingkat internasional.
Ia berharap proses regenerasi kepemimpinan PBNU mampu melahirkan sosok yang dapat menjaga marwah organisasi sekaligus membawa Nahdlatul Ulama semakin berperan dalam menjawab tantangan zaman.
“Melihat tantangan zaman yang kian pragmatis dan kompleks, profil seperti Kiai Imam Jazuli memberikan harapan baru bagi masa depan PBNU yang mandiri, kokoh, dan berwibawa di mata dunia,” tulis Gus Miftah dalam penutup opininya.
(Redaksi MPGINEWS.ID)








Komentar