Syafrudin Budiman: Meniti Jejak dari Aktivis Reformasi, Politisi, Relawan hingga Komisaris BUMN

Mpginews.id,JAKARTA — Perjalanan Syafrudin Budiman, S.IP., selama hampir tiga dekade menunjukkan lintasan aktivitas yang bergerak dari gerakan mahasiswa, politik kepartaian, jurnalistik, komunikasi politik, pengembangan UMKM, organisasi relawan hingga profesionalisme korporasi.

Namanya mulai dikenal dalam aktivitas gerakan mahasiswa pada era Reformasi 1998 dan kemudian berkembang di berbagai ruang organisasi, politik dan ekonomi kerakyatan. Dalam perjalanan politiknya, ia pernah berada di barisan pendukung Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014, kemudian terlibat dalam relawan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, dan kembali menjadi bagian dari jaringan relawan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024.

Perubahan lintasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan politik Syafrudin yang berlangsung sejak akhir 1990-an hingga memasuki 2026.

1998: Memulai dari Gerakan Reformasi

Jejak politik Syafrudin bermula pada momentum Reformasi 1998. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan studi di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Sejumlah profil biografis menyebut Syafrudin terlibat dalam aksi mahasiswa di Surabaya pada 9 September 1998 yang menolak kedatangan Presiden B.J. Habibie dalam rangkaian gerakan Reformasi.

Pengalaman demonstrasi, diskusi dan dinamika politik mahasiswa tersebut kemudian mendorongnya berpindah dari jurusan Bahasa Inggris ke Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWKS.

Dari sinilah fase awal perjalanannya terbentuk: mahasiswa, aktivis Reformasi dan kemudian mahasiswa Ilmu Politik.

1999–2004: Konsolidasi sebagai Aktivis Mahasiswa

Memasuki awal 2000-an, aktivitas Syafrudin berkembang melalui berbagai organisasi kemahasiswaan.

Sejumlah profil mencatat keterlibatannya di Senat Mahasiswa, BEM, HMJ Ilmu Politik hingga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia disebut pernah menjadi Ketua Komisariat IMM UWKS, aktif di PC IMM Surabaya dan DPD IMM Jawa Timur, serta kemudian masuk dalam struktur DPP IMM.

Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan isu demokrasi, hak asasi manusia, kaderisasi, diskusi politik dan kepemimpinan organisasi.

Fase ini menjadi periode konsolidasi dari aktivisme jalanan menuju aktivitas organisasi dan kaderisasi mahasiswa.

2005–2008: Demokrasi, HAM dan Kepemimpinan Organisasi

Periode berikutnya menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan pengalaman organisasi Syafrudin.

Ia terlibat dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan demokrasi, HAM dan refleksi Reformasi 1998. Salah satu profil menyebut keterlibatannya dalam kegiatan refleksi Tragedi Mei 1998 yang menghadirkan aktivis HAM, termasuk almarhum Munir.

Di lingkungan IMM, ia juga dipercaya memimpin sejumlah forum organisasi mahasiswa tingkat nasional. Di antaranya disebut pernah menjadi Ketua Presidium Sidang Muktamar IMM XII di Ambon serta memimpin forum Tanwir menjelang Muktamar IMM XIII.

Dari pengalaman memimpin forum-forum tersebut kemudian muncul julukan “Macan Sidang.”

Pada periode yang sama, sejumlah sumber juga mencatat keterlibatannya dalam KNPI Jawa Timur dan Lingkar Studi Mahasiswa (LISUMA) Indonesia Jawa Timur.

Dengan demikian, fase ini memperlihatkan pergeseran dari aktivis mahasiswa menjadi organisator dan pemimpin forum nasional.

2005–2010: Memasuki Politik Kepartaian

Setelah melalui pengalaman panjang dalam gerakan mahasiswa, Syafrudin mulai memasuki politik kepartaian.

Sejumlah profil menyebut keterlibatannya dalam Partai Matahari Bangsa (PMB) dan aktivitas kepemimpinan di tingkat Jawa Timur.

Periode ini menjadi titik peralihan dari politik gerakan mahasiswa menuju politik institusional melalui partai politik.

2000-an–2010-an: Jurnalistik dan Komunikasi Politik

Selain organisasi dan politik, Syafrudin juga berkembang di bidang jurnalistik dan komunikasi.

Sejumlah profil menyebut pengalaman jurnalistiknya di Surabaya Post. Setelah itu, aktivitasnya berkembang ke bidang media, komunikasi politik dan konsultasi.

Pengalaman tersebut kemudian memperluas aktivitasnya pada tiga bidang sekaligus, yakni politik, media dan organisasi masyarakat.

Bidang komunikasi juga menjadi bagian yang terus melekat dalam aktivitasnya hingga memasuki periode politik elektoral dan gerakan relawan.

2013: Masuk ke Politik Elektoral

Menjelang Pemilu 2014, aktivitas Syafrudin semakin dekat dengan politik elektoral.

Sejumlah profil mengenai perjalanan politiknya mencatat keterlibatannya dalam dukungan terhadap pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S. pada Pilgub Jawa Timur 2013.

Fase ini menjadi salah satu jembatan dari aktivitas organisasi menuju politik elektoral secara langsung.

2014: Prabowo-Hatta dan PAN

Pada Pilpres 2014, Syafrudin berada di barisan pendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Ia disebut mendirikan Laksamana atau Laskar Barisan Amanat Nasional untuk Prabowo-Hatta. Pada periode yang sama, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari PAN untuk daerah pemilihan Jawa Timur I, berdasarkan sejumlah profil dan pemberitaan mengenai riwayat politiknya.

Periode tersebut menjadi awal keterlibatannya dalam jaringan politik yang mendukung Prabowo, yang kemudian kembali terlihat pada Pemilu 2024.

2015–2017: Media, Bisnis dan UMKM

Pasca-Pilpres 2014, Syafrudin kemudian lebih banyak beraktivitas di bidang bisnis, media online, komunikasi serta koperasi dan UMKM.

Pada periode berikutnya, pandangannya terhadap pemerintahan Joko Widodo juga mulai berubah. Dalam wawancara yang dikutip media, ia menyatakan melihat sejumlah program pemerintahan Jokowi sebagai kelanjutan dari kebijakan pemerintahan sebelumnya.

Perubahan perspektif politik tersebut kemudian menjadi salah satu latar keterlibatannya dalam jaringan relawan Jokowi menjelang Pilpres 2019.

2018–2019: Beralih ke Relawan Jokowi

Menjelang Pilpres 2019, Syafrudin bergabung dengan jaringan Aliansi Relawan Jokowi (ARJ).

Sejumlah profil menyebut ia aktif dalam bidang media dan komunikasi relawan serta terlibat dalam jaringan Barisan Pembaharuan yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa posisi politik Syafrudin mengalami perubahan dari dukungan terhadap Prabowo-Hatta pada 2014 menjadi keterlibatan dalam jaringan pendukung Jokowi-Ma’ruf pada 2019.

2020–2022: Penguatan Isu UMKM dan Partai UKM Indonesia

Perhatian terhadap ekonomi kerakyatan kemudian diwujudkan melalui aktivitas politik berbasis UMKM.

Pada 7 Mei 2021, Syafrudin disebut mendirikan Partai UKM Indonesia dan terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai UKM Indonesia. Organisasi tersebut membawa isu pelaku UMKM, koperasi, pedagang dan kalangan milenial.

Pada Juli 2022, Partai UKM Indonesia menyatakan bergabung atau berfusi dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Setelah itu, aktivitas berbasis UMKM dan koperasi diteruskan melalui pembentukan Perhimpunan UKM Indonesia.

Benang merah fase ini adalah perpaduan antara politik, organisasi dan ekonomi kerakyatan.

2023: Konsolidasi Politik dan Relawan

Memasuki 2023, nama Syafrudin kembali muncul dalam aktivitas politik PAN dan jaringan relawan nasional menjelang Pemilu 2024.

Ia juga aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan jaringan relawan serta isu ekonomi kerakyatan.

Fase ini menjadi periode konsolidasi sebelum memasuki arena politik nasional pada Pemilu 2024.

2024: Koordinator Nasional Relawan Prabowo-Gibran

Tahun 2024 menjadi salah satu fase paling menonjol dalam perjalanan politik Syafrudin.

Ia tercatat sebagai Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo-Gibran (ARPG). Dalam pemberitaan ANTARA pada Mei 2024, Syafrudin disebut dalam kapasitas tersebut ketika menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan bergabungnya partai-partai pendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar ke dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.

Dalam sejumlah pemberitaan lainnya, ARPG juga mengusulkan sejumlah nama dari kalangan relawan untuk posisi di pemerintahan. Nama Syafrudin termasuk yang diusulkan untuk posisi yang berkaitan dengan bidang koperasi, UKM maupun pemerintahan. Usulan tersebut merupakan aspirasi organisasi relawan dan bukan keputusan pengangkatan jabatan pemerintahan.

Pada tahun yang sama, Syafrudin juga tercatat dalam pemberitaan terkait aktivitas politik PAN dan pencalonannya sebagai calon anggota DPR RI.

2025: Pendidikan Pascasarjana dan Dunia Korporasi

Pada 2025, perjalanan Syafrudin memasuki fase baru.

Profil profesional yang tersedia untuk publik mencantumkan bahwa ia melanjutkan pendidikan Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional (UNAS) untuk periode 2025–2027. Profil yang sama juga mencantumkan pengalaman sebagai Komisaris PT Jasamarga Related Business sejak Oktober 2025.

Peralihan ini menambah dimensi baru dalam perjalanan profesionalnya: setelah melalui pengalaman sebagai aktivis, organisator, politisi dan relawan, ia memasuki lingkungan tata kelola korporasi.

Jabatan di JMRB juga menempatkannya dalam lingkungan perusahaan yang terkait dengan ekosistem Jasa Marga.

2026: Politik, Akademik, UMKM dan Korporasi

Memasuki 2026, aktivitas Syafrudin berlangsung di sejumlah ruang sekaligus.

Di satu sisi, ia masih terlibat dalam komunikasi politik dan jaringan relawan. Di sisi lain, ia menjalani pendidikan pascasarjana ilmu politik serta aktivitas di bidang ekonomi kerakyatan dan UMKM.

Profil profesional yang tersedia untuk publik masih mencantumkan posisinya sebagai Komisaris PT Jasamarga Related Business.

Dengan demikian, pada 2026 jejak aktivitas Syafrudin dapat dipetakan dalam beberapa bidang:

– Politik dan komunikasi politik
– Aktivisme dan organisasi kepemudaan
– Jaringan relawan nasional
– UMKM, koperasi dan ekonomi kerakyatan
– Pendidikan pascasarjana ilmu politik
– Profesionalisme korporasi

Jejak 1998–2026

Jika dirangkum dalam garis waktu, perjalanan Syafrudin Budiman dapat digambarkan sebagai berikut:

1998
Reformasi → aksi mahasiswa → masuk Ilmu Politik.

1999–2004
Senat/BEM/HMJ → IMM → kaderisasi dan gerakan mahasiswa.

2005–2008
Demokrasi dan HAM → kepemimpinan forum IMM → aktivitas kepemudaan.

2005–2010
Politik kepartaian dan organisasi kepemudaan.

2000-an–2010-an
Jurnalistik → Surabaya Post → media dan komunikasi politik.

2013
Keterlibatan dalam politik elektoral Jawa Timur.

2014
Prabowo-Hatta → PAN → Laksamana.

2015–2017
Media, bisnis dan UMKM.

2018–2019
Relawan Jokowi-Ma’ruf → aktivitas komunikasi dan organisasi relawan.

2021–2022
Partai UKM Indonesia → isu ekonomi kerakyatan → bergabung dengan PAN.

2023
Konsolidasi politik dan jaringan relawan nasional.

2024
ARPG → Prabowo-Gibran → aktivitas politik PAN → usulan nama untuk posisi pemerintahan.

2025
Magister Ilmu Politik UNAS → Komisaris PT Jasamarga Related Business.

2026
Aktivitas politik → akademik → UMKM dan ekonomi kerakyatan → profesional korporasi.

Dari Jalanan Reformasi ke Ruang Korporasi

Hampir tiga dekade perjalanan Syafrudin Budiman memperlihatkan lintasan aktivitas yang melewati sejumlah ruang berbeda: gerakan mahasiswa, organisasi kepemudaan, politik kepartaian, jurnalistik, komunikasi politik, UMKM, gerakan relawan dan korporasi.

Perubahan dukungan politiknya juga menjadi bagian dari catatan perjalanan tersebut. Pada 2014 ia berada dalam barisan pendukung Prabowo-Hatta, kemudian pada 2019 terlibat dalam jaringan relawan Jokowi-Ma’ruf, dan pada 2024 kembali aktif dalam jaringan relawan Prabowo-Gibran. Catatan tersebut merupakan bagian dari rekam perjalanan politik yang dapat ditelusuri melalui berbagai pemberitaan dan profil publik, tanpa harus dimaknai sebagai penilaian atas pilihan politiknya.

Dari rangkaian tersebut, perjalanan Syafrudin Budiman selama 1998–2026 dapat diringkas dalam satu garis besar:

“Dari jalanan Reformasi 1998 ke ruang politik nasional, dari jurnalistik dan gerakan mahasiswa ke ekonomi kerakyatan, hingga memasuki profesionalisme korporasi.”

(Redaksi)

Editor : DM MPGI