Mpginews.id,JAKARTA —Perjalanan Syafrudin Budiman, S.IP, yang akrab disapa Gus Din, merupakan potret perjalanan seorang aktivis yang melintasi banyak ruang pengabdian. Berangkat dari keluarga dengan tradisi dakwah dan organisasi Muhammadiyah, Gus Din kemudian tumbuh sebagai aktivis mahasiswa, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), jurnalis, konsultan media, intelektual politik, penggerak ekonomi kerakyatan, politisi, relawan politik hingga profesional di lingkungan BUMN.
Lintasan panjang tersebut membuat sosok Gus Din tidak hanya dikenal dari satu bidang. Ia pernah berada di ruang gerakan mahasiswa, memimpin forum organisasi tingkat nasional, terjun ke dunia jurnalistik, mendalami ilmu politik, mengelola komunikasi politik, memperjuangkan isu UMKM dan ekonomi kerakyatan, hingga dipercaya menduduki posisi komisaris di perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN.
Tumbuh dari Keluarga Dakwah dan Muhammadiyah
Gus Din merupakan putra bungsu dari lima bersaudara pasangan almarhum Ustadz Ach. Zainuddin HR dan almarhumah Mardhiyah.
Ayahnya dikenal aktif dalam dakwah dan lingkungan Muhammadiyah di Sumenep, Madura. Sementara ibunya memiliki pengalaman dalam organisasi perempuan Muhammadiyah, termasuk Nasyiatul Aisyiyah dan Aisyiyah.
Tradisi keluarga tersebut menjadi fondasi awal pembentukan karakter Gus Din. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan pendidikan keagamaan, organisasi, kegiatan sosial dan pengabdian kepada masyarakat.
Jejak keluarga itu juga tersambung dengan sosok kakeknya, almarhum Ustadz/KH Abdul Kadir Muhammad atau AKM/HAKAM.
Abdul Kadir Muhammad dikenal sebagai tokoh dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di Sumenep dan Pulau Kangean. Ia juga memiliki peran dalam pengembangan pendidikan di Kangean melalui YPPMI Arjasa.
Kisah keluarga tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana tradisi organisasi dan pengabdian kemudian tumbuh dalam perjalanan Gus Din.
Dari Kampus hingga “Macan Sidang”
Memasuki dunia mahasiswa, Gus Din mengambil Ilmu Politik di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).
Ia aktif dalam berbagai organisasi kampus, antara lain Senat Mahasiswa, BEM dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik.
Sejumlah posisi pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari Ketua I Bidang Organisasi SEMA-UWKS, Bendahara Senat Mahasiswa, Ketua Litbang BEM FISIP hingga Ketua HMJ Ilmu Politik.
Namun, dunia pergerakan Gus Din tidak berhenti di kampus.
Ia kemudian aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan menjalani proses perkaderan dari tingkat komisariat hingga nasional.
Ia pernah menjadi Ketua Umum Komisariat IMM Universitas Wijaya Kusuma, Ketua Bidang Hikmah PC IMM Kota Surabaya, Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Jawa Timur hingga Ketua Umum Carateker PC IMM Kabupaten Sumenep.
Di tingkat nasional, Gus Din pernah dipercaya mengemban amanah di Pimpinan Pusat IMM pada bidang sosial-ekonomi.
Pengalamannya dalam memimpin forum organisasi nasional kemudian melahirkan julukan “Macan Sidang.”
Pada 2006, ia dipercaya menjadi Ketua Presidium Sidang Muktamar IMM XII di Ambon. Dua tahun kemudian, ia kembali dipercaya memimpin Presidium Sidang Tanwir IMM menjelang Muktamar XIII di Bandar Lampung.
Kemampuan mengendalikan forum, mengelola perdebatan dan mengambil keputusan menjadi salah satu ciri yang melekat dalam perjalanan organisasinya.
Aktivis yang Beralih Menjadi Jurnalis
Selepas dari dunia aktivisme mahasiswa, Gus Din memasuki dunia jurnalistik.
Ia pernah berkiprah sebagai jurnalis Surabaya Post.
Dunia jurnalistik memberikan pengalaman baru dalam membaca realitas sosial dan politik. Ia berhadapan langsung dengan proses mencari informasi, melakukan wawancara, menulis berita, membangun jaringan dan memahami bagaimana sebuah isu berkembang menjadi opini publik.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke dunia konsultan media dan komunikasi politik.
Ia terlibat dalam kegiatan komunikasi publik, riset, pemetaan politik, analisis isu, pembentukan opini dan strategi komunikasi politik.
Pengalaman sebagai aktivis dan jurnalis kemudian menjadi kombinasi yang membentuk karakter Gus Din sebagai praktisi komunikasi sekaligus intelektual politik.
Memperkuat Diri dengan Pendidikan Politik
Tidak hanya mengandalkan pengalaman organisasi dan lapangan, Gus Din juga memperkuat basis akademiknya.
Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Politik di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan melanjutkan Magister Ilmu Politik di Universitas Nasional Jakarta.
Dunia akademik memperluas perhatiannya terhadap berbagai isu, mulai dari demokrasi, politik nasional, komunikasi politik, kebijakan publik, pemerintahan dan kepemimpinan hingga ekonomi kerakyatan dan UMKM.
Perpaduan antara pengalaman lapangan dan pendidikan formal tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan intelektual Gus Din.
Dari Prabowo-Hatta, Jokowi hingga Prabowo-Gibran
Gus Din juga memiliki perjalanan politik yang cukup panjang dan melintasi berbagai momentum politik nasional.
Pada Pilpres 2014, ia berada di barisan pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Ia mendirikan Laksamana atau Laskar Barisan Amanat Nasional for Prabowo-Hatta dan pernah menjadi calon anggota legislatif dari PAN.
Pada Pilpres 2019, arah dukungannya berada di barisan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin.
Gus Din bergabung dalam Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) dan aktif dalam kegiatan media, komunikasi serta konsolidasi relawan.
Sementara pada Pilpres 2024, ia kembali terlibat dalam gerakan relawan pendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Ia dipercaya menjadi Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo-Gibran (ARPG) dan Ketua Umum Presidium Pusat Barisan Pembaharuan 08 (PP-BP 08).
Lintasan tersebut memperlihatkan pengalaman Gus Din dalam berbagai dinamika politik dan jaringan relawan nasional.
Membawa UMKM ke Ruang Politik
Di luar aktivitas politik elektoral, Gus Din juga menaruh perhatian pada ekonomi kerakyatan.
Ia mendirikan dan memimpin Partai UKM Indonesia, dengan agenda yang menitikberatkan pada UMKM, koperasi, kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut kemudian terus dibawa dalam aktivitas organisasinya.
Ia tercatat sebagai Ketua Umum Perhimpunan UKM Indonesia dengan perhatian pada isu pemberdayaan UMKM, akses pembiayaan, kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi.
Bagi Gus Din, ekonomi kerakyatan menjadi salah satu ruang penting untuk menghubungkan perjuangan politik dengan persoalan masyarakat sehari-hari.
Babak Baru di Lingkungan BUMN
Perjalanan panjang tersebut kemudian memasuki babak baru ketika Gus Din dipercaya sebagai Komisaris PT Jasa Marga Related Business (JMRB).
Posisi tersebut menempatkannya dalam lingkungan profesional korporasi dan tata kelola perusahaan.
Pengalaman panjang di bidang organisasi, komunikasi, politik dan ekonomi kerakyatan menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian dibawa ke ruang profesional BUMN.
Dari sini, perjalanan Gus Din dapat dibaca sebagai sebuah transformasi: aktivis mahasiswa, jurnalis, konsultan media, intelektual politik, politisi, penggerak UMKM, relawan politik hingga profesional BUMN.
Satu Benang Merah: Pengabdian di Ruang Publik
Jika ditarik ke belakang, perjalanan Gus Din memiliki satu benang merah, yakni keterlibatan dalam ruang publik.
Tradisi tersebut berakar dari keluarganya. Dari ayahnya, Ustadz Ach. Zainuddin HR, ia mengenal dunia dakwah dan Muhammadiyah. Dari ibunya, Mardhiyah, ia mengenal tradisi organisasi perempuan dan kegiatan sosial.
Sementara dari sang kakek, KH Abdul Kadir Muhammad, terdapat warisan dakwah, pendidikan dan pengembangan Muhammadiyah di Sumenep serta Kangean.
Gus Din kemudian membawa nilai-nilai tersebut ke dalam konteks generasinya sendiri.
Ia memilih jalur mahasiswa dan IMM untuk belajar mengenai pergerakan. Ia masuk jurnalistik untuk memahami realitas dan komunikasi publik. Ia mendalami ilmu politik untuk memperkuat perspektif akademik.
Ia kemudian memasuki politik praktis, membangun gerakan ekonomi kerakyatan dan UMKM, terlibat dalam gerakan relawan nasional, hingga akhirnya masuk ke lingkungan profesional BUMN.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bagi Gus Din, organisasi, politik, media, ekonomi kerakyatan dan dunia profesional bukan ruang yang berdiri sendiri.
Semuanya menjadi bagian dari proses panjang membangun pengalaman dan pengabdian di tengah masyarakat.
Gus Din dalam Satu Kalimat
Syafrudin Budiman, S.IP atau Gus Din adalah sosok yang tumbuh dari tradisi keluarga dakwah dan pergerakan, menempa diri melalui aktivisme mahasiswa dan IMM, berkembang sebagai jurnalis serta intelektual politik, bergerak dalam isu UMKM dan ekonomi kerakyatan, terlibat dalam politik serta gerakan relawan nasional, hingga memasuki ruang profesional BUMN.
Perjalanan itu dapat dirangkum dalam satu kalimat:
“Dari tradisi dakwah dan pergerakan keluarga, tumbuh menjadi aktivis mahasiswa, berkembang menjadi jurnalis dan intelektual politik, bergerak dalam ekonomi kerakyatan dan politik nasional, hingga mengambil peran dalam pengabdian profesional di BUMN.”
Editor : DM MPGI







